EKO ADRI WAHYUDIONO

Saya Guru,..jika bukan pengajar pastilah pendidik,atau keduanya,..jika bukan keduanyapun,saya pastilah cuman seorang guru..😊✌⚘...

Selengkapnya
Navigasi Web

"Lho,..di sekolah ini juga diajarkan pelajaran Bahasa Indonesia !!???..

"Lho,..di sekolah ini juga diajarkan pelajaran Bahasa Indonesia !!???.. 🤔

Pertanyaan itu aku sampaikan lagi dalam bahasa Inggris aksen campuran British dan American karena keterkejutanku dan rasa ketidakpercayaku pada penjelasan kepala SMA.Mount Lawley,Perth,Australia Barat saat mengikuti program immersion.

Rasa nasionalismeku langsung membumbung tinggi. Wah, ini luar biasa,bagaimana tidak,..pelajaran Bahasa Indonesia ternyata disukai oleh siswa siswi di sekolah sekolah khususnya setingkat SMA di sebagean besar wilayah negara bagian Australia.

Perlu diketahui,SMA Mount.Lawley terletak di wilayah pinggiran kota Perth di Australia Barat yang bisa ditempuh sekitar 20 menit dengan bus kota dari asramaku yang bersebelahan dengan Phoenix Academy, kampus dimana para guru dan mahasiswa dari seluruh dunia datang untuk memperdalam dan mempelajari pengajaran bahasa Inggris untuk berbagai tingkatan yang terletak Cleaver street di daerah Northbridge atau pusat kota Perth. Jika ingin naik bus kota gratis,Pemerintah kota sudah menyediakan bus kota gratis untuk semua warganya dan ciri ciri bus kotanya gampang dicari asal jeli melihat tulisan C.A.T di atas kaca sopir dengan warna biru,merah,atau kuning untuk menunjukkan daerah atau tempat yang dituju.

Kota Perth, terletak di sebelah selatan Australia dan masuk ke arah barat berbatasan dengan lautan Indonesia dengan udara yang sejuk karena mempunyai 4 musim yaitu panas, gugur,semi dan dingin namun tidak bersalju.

Beberapa hari sebelumnya,saat tiba di Australia, aku melaporkan diri ke Konsulat Jendral RI di Perth dan ditrima oleh staff KJRI,yaitu ibu Katty yang asli Tegal. Setelah aku serahkan surat tugasku,beliau mengajakku menemui Bapak Konsul Jendral RI di Perth,yaitu Bapak Syahri. Pada kesempatan itu, Beliau berpesan untuk selalu menjaga nama baik bangsa dan negara Indonesia selama ada atau tugas di luar negeri tidak terkecuali siapapun dan negara manapun khususnya Australia. Alhamdulillah, kami dijamu masakan Indonesia di KJRI Perth. Terimakasih,semoga beliau berdua senantiasa diberikan kesehatan dan perlindungan oleh Allah SWT atas kemurahan hatinya. ⚘

Hari selanjutnya mengawali tugasku di SMA Mt.Lawley,..yang aku cerita di atas tadi, yang saat aku melayang dan tidak bisa membayangkan senangnya karena mendapatkan informasi adanya mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah itu. Wahh,asyiik...,aku bisa bertemu orang Indonesia niih dengan wajah kegirangan seperti anak yang masa bahagianya kurang kecil. 🤣.

"Do you want to see the class ?,..Come on,.I will guide and introduce you to Indonesian language teachers who are teaching it here..! " (Anda ingin melihat kelasnya ?..ayo ,.saya antarkan dan nanti saya kenalkan dengan guru Bahasa Indonesia yang mengajar bahasa Indonesia di sini). Pak Kepsek Mt.Lawley menawariku. Wah,.tentu saja tawaran itu tidak saya tolak. Singkatnya hari pertama di sekolah itu berjalan dengan lancar. Kami memerlukan beberapa menit untuk menuju kelas itu dikarenakan luasnya SMA itu. Bayangin saja jika sebuah sekolah punya lapangan sepakbola, lapangan basket, kolam renang, aula dan banyak fasilitas lainnya yang aku tidak bermaksud membandingkan Sekolahku di tanah air dengan sekolah di Aussie-sebutan untuk negara Australia karena kita jelas menanglah, dari sisi menang yang menang....gung beban atau menang....is. ✌😷😄.

Akhirnya,tak berapa lama sampailah juga kami di kelas mata pelajaran Bahasa Indonesia dan diterima oleh 2 orang guru di ruang guru di samping 2 kelas tadi. Eitss.., Sebentar,anda semua jangan membayangkan ruang guru seperti di sekolah Indonesia dimana sebelum mengajar,saat istirahat dan rapat para guru ada di ruang yang sama,berkumpul jadi satu. Tipikal sekolah di Australia,ruang guru ya disamping kelas yang mereka ampu karena sistim mereka adalah Moving Class yang berapa tahun lalu pernah diterapkan di sekolah sekolah di negeri kita dan sekarang kembali lagi ke model kelas diam karena tidak berjalan maksimal serta banyak faktor penyebab yang salah satunya adalah sarana prasarana sekolah yang belum mendukung. Sedangkan ruang guru yang dimaksud di Aussie adalah ruang rapat pleno dewan guru.

"Oh my God..", gumanku dengan kekecewaan yang dalam saat dikenalkan dengan guru pengajar Bahasa Indonesia. Ternyata mereka berdua bukan orang Indonesia. Anda pasti juga salah tebak kan ?,.ternyata mereka, satu guru wanita warga negara Singapura,dan satu guru lagi seorang pria warga negara Malaysia yang mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia .,rasanya aku masih tidak yakin juga..aku lirik tulisan di pintu masuk kelas ..jelas jelas tertulis KELAS BAHASA INDONESIA. hufs.. 😓

Dengan berusaha tetap tersenyum, aku berkenalan lebih agar lebih akrab dan berbasa basi dalam bahasa Indonesia dengan guru dan murid murid yang belajar di kelas itu saat aku diajak masuk kelas mereka. Setelah beberapa saat, agar tidak mengganggu pelajaran di kelas, aku dengan pak kepsek izin kembali ke ruang tamu kepsek untuk berdiskusi dan membahas banyak hal. Nah ..saat itu pula, aku memberanikan diri untuk bertanya secara pribadi, kenapa sih tidak mengambil guru bahasa Indonesia dari Indonesia.?. Penjelasan beliau membuatku kaget juga. Pada prinsipnya sekolah di Aussie tidak keberatan dan lebih senang jika ada guru bahasa Indonesia yang asli orang Indonesia dan mereka siap untuk hal itu karena sekolah di Aussie pada umumnya selalu memperkerjakan guru asing dan itu diutamakan Penutur Asli dari negara guru itu berasal dalam mengajar bahasa asing. Sebagai misal,.mendatangkan guru dari China untuk mengajar bahasa Mandarin,. menerima lamaran guru dari Jepang untuk mengajar bahasa Jepang, guru dari Spanyol juga untuk mengajar bahasa Spanyol, termasuk juga niih..bahasa Indonesia itu. Saat beliau aku tanya lebih dalam,apakah tidak ada guru jurusan bahasa Indonesia dari Indonesia yang melamar menjadi pengajar atau guru bahasa Indonesia di sekolah sekolah di Australia ?.

Beliau menjawab ada,tapi banyak yang tidak diterima karena lemah pada kemampuan penguasaan bahasa Inggris sebagai syarat menjadi guru di sana yaitu harus mampu mencapai skor minimal 560 untuk TOEFL (Test of English as Foreign Language), atau IELTS minimal 6,5 agar guru guru tersebut mampu tinggal dan bersosialisasi dan demi kelancaran tugas mengajar mereka saat tinggal di Australia dan juga untuk kehidupannya.

Wahh,mendengar penjelasan itu rasanya kok hampir tidak percaya jika guru guru di negeri kita ini tidak bisa berbahasa Inggris. Jelas itu hil yang mustahal,masak kemampuan guru di negeriku segitu. 😓

Ah,..seandainya jurusanku adalah bahasa Indonesia dan menguasai standar TOEFL setinggi yang disyaratkan,.aku akan mengajarkan bahasa Indonesia di luar negeri agar negeriku, budayaku dan bahasaku bisa menguasai dunia. Ahh, Rasanya pingin tidur saja nih biar obsesi mengajar di luar negeri itu aku awali dari mimpi dulu ,dan jika terbangunpun,. enak deh,tinggal langsung memberikan tes tulis saja pada murid dan hasilnya harus tetap di atas KKM. 😄

Nah, Bagaimana dengan anda niih?✌

Perth,Western Australia. 09012020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

tertampar rasanya pak, semoga jadi semangat untuk kemajuan...

14 Jan
Balas

aamiin yra..trimakasih bu,semoga kita jd lebih hebat..

15 Jan
Balas
search