EKO ADRI WAHYUDIONO

Saya Guru,..jika bukan pengajar pastilah pendidik,atau keduanya,..jika bukan keduanyapun,saya pastilah cuman seorang guru..😊✌⚘...

Selengkapnya
Navigasi Web
KETUNTASAN KESEHATAN MASYARAKAT ( KKM)

KETUNTASAN KESEHATAN MASYARAKAT ( KKM)

Ketuntasan Kesehatan Masyarakat (KKM).

 

"Maaf,kami berniat memindahkan anak kami yang sekolah di sini ke sekolah lain..!",. itu kalimat yang aku dengar pertama kali di pagi hari ketika memasuki ruang guru dan diucapkan oleh seorang walimurid dalam bahasa Indonesia tapi beraksen Jepang. Untuk sesaat,  suara ibu itu rasanya aku kenal betul yaitu sebut saja ibu Rei Matsumoto. Kejadian itu berlangsung disaat hari pertama masuk sekolah di semester genap ini, karena semua siswa di sekolahku harus masuk setelah menerima raport semester ganjil dan mendapatkan libur kurang lebih sepekan di akhir tahun 2019 minggu lalu.

 

Ibu Rei Matsumoto sudah aku kenal semenjak masih di Jepang dimana saat itu aku sedang menempuh studi di sana,juga suaminya adalah orang Indonesia,teman akrabku yang berasal dari satu kota di tanah air. Suaminya bekerja di perusahaan di Jepang dan setelah beberapa tahun bekerja,dia menikah dengan orang Jepang,yaitu ibu Rei Matsumoto itu.

 

Pasangan suami istri itu dianugerahi 2 putri dan mereka sering menghabiskan waktu liburnya di kotaku di Indonesia khususnya bila musim panas memuncak di Jepang. Ibu Rei dan kedua putrinya sangat suka tinggal di kota kecil di mana aku tinggal,serta sering berkunjung ke sekolah di mana tempat aku bekerja dan mengajar. Sampai suatu hari,ibu Rei Matsumoto dan suaminya Bapak Doni yang asli Indonesia berkunjung ke rumah,serta meminta bantuan kepadaku bilamana anak putri pertamanya yang cantik,namanya Keiko Matsumoto begitu tamat SMP di Jepang,ingin anaknya melanjutkan studi di SMA di mana aku mengajar. Keinginan itu atas permintaan si Keiko sendiri,yang juga didukung oleh kedua orang tua mereka. Pak Doni ingin Keiko tinggal di Indonesia sambil menemani kakek neneknya yang tinggal tidak jauh dari SMAku. Ketika aku tanyakan kenapa ingin belajar di SMA di Indonesia, Keiko sendiri menjawab bahwa dia suka dengan orang Indonesia yang ramah dan ingin lebih  menguasai Bahasa Indonesia. Dia ingin suatu saat nanti bekerja sebagai diplomat di Departemen Luar Negeri Jepang dan ingin ditempatkan di Indonesia selepas studi program S1 atau S2 dari Universitas yang ada di Indonesia. Akupun salut dan terharu dengan kegigihannya. Akhirnya,tidak begitu lama, akupun berusaha membantu untuk pengurusan dokumen yang diperlukan dari Kantor Kedutaan,baik Indonesia maupun Jepang,juga ke BKLN,Biro Kerjasama Luar Negeri,Kemdiknas Jakarta untuk surat rekomendasi masuk ke SMA di kotaku termasuk juga pengurusan surat ijin belajar dan Visa serta KITAS-Kartu izin tinggal sementara yang harus diperbaharui setiap tahunnya. Singkatnya, si Keiko berhasil belajar di sekolahku. Semua menyambut gembira,ya guru,begitu pula murid semuanya karena ada siswi asing yang mau belajar menjadi siswi tetap. Sebetulnya, di SMA ku banyak siswa siswi asing yang hanya belajar juga namun hanya program pertukaran pelajar dengan jangka waktu paling pendek selama 2 minggu dan maksimal 1 tahun.

 

Pada awal semester, si Keiko cepat sekali beradaptasi sehingga banyak mempunyai teman baru. Aku tidak mengajar dia di kelas 10 IPS, karena tugasku menyiapkan anak anak di kelas 12 untuk persiapan ujian akhir. Namun keraguanku segera sirna begitu melihat Keiko juga cepat menguasai bahasa Indonesia yang mungkin juga sudah  diajari oleh ayahnya yang orang asli  Indonesia.

 

Hari berganti hari,minggu berganti minggu serta juga bulan cepat berlalu sampai tiba saatnya Penilaian Akhir Semester (PAS),pembagian rapor dan liburan dimana  pada awal semester genap ini,aku bertemu dengan ibunya lagi di sekolah.

 

Karena penasaran,aku memberanikan diri bertanya kepadanya dalam bahasa Jepang agar aku tahu alasan yang sebenarnya dan tidak perlu malu pada guru guru yang hadir saat itu di ruang guru,: "  Sumimasen ga,Rei san e,..doshite Keiko san no benkyou wa kono gako de owaritain desu ka ?, nani ka mondai ga arimasuka ?  chotto oshiette kudasai !". ( Maaf,ibu Rei,Kenapa sih, Belajarnya Keiko di sekolah ini ingin dihentikan atau pindah ? ada masalah apa sih ?  tolong jelaskan pada saya).

Begitu mendengar penjelasannya yang juga dalam bahasa Jepang,rasanya pipiku serasa ada yang menampar keras. Pada intinya ibu Rei keberatan,kenapa raport anaknya kok nilainya bagus semua. Dia menunjukkan, misalnya mata pelajaran bahasa Jawa sebagai mapel muatan lokal,kok mendapat nilai 90,yg padahal anaknya sering menunjukkan hasil ulangan harian dengan nilai 58, 43 serta 40 dari KD-KD yang diajarkan guru. ulangan tengah semester juga mendapatkan nilai 32,serta nilai ulangan akhir semester sekitar 57. Dia merasa aneh, darimana nilai 90 itu di dapat dan itu juga berlaku untuk semua mapel yang Keiko pelajari. Ibu Rei,ingin raport anaknya ,untuk semua mapel harus diisi dengan nilai asli apa adanya..jika dapat 45 ya harus ditulis asli apa adanya. Dia tidak mau ada mark up nilai raport untuk anaknya,karena beliau beranggapan sekolah ini sudah tidak mengajarkan kejujuran pada murid muridnya.

 

Setelah aku jelaskan dan terjemahkan ke  dalam bahasa Indonesia kepada para guru di dalam ruangan, untuk beberapa saat,terlihat para guru yang hadir di ruangan itu menjadi tidak bisa berkata kata. Akhirnya aku jelaskan tentang adanya Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada ibu Rei, dimana sekolah sudah menentukan KKM, yang nilai KKM nya adalah 75 dan masih lagi tentang proses,menentukan intake dan lain lainnya sampai penetapan KKM oleh lembaga sekolah,namun ibu Rei merasa bahwa sistim pendidikan di negeri ini membuat murid murid menjadi manja dan tidak melatih anak didik menghadapi kenyataan serta bagaimana belajar giat dan berusaha untuk kreatif. Akhirnya,aku juga tidak mampu mencegah si Keiko yang keluar dari SMA di mana aku mengajar,dan hanya mendoakan semoga Keiko tetap bisa menjadi diplomat seperti cita citanya karena dia ingin meningkatkan hubungan Indonesia dan Jepang semakin erat di masa depan. Sungguh cita cita yang mulia,nak !.

 

Sampai di sini,.terus apa hubungannya ceritaku di atas dengan judul artikel ini,yaitu Ketuntasan Kesehatan Masyarakat ?,..ahh,aku jadi berandai andai,jika seluruh rumah sakit di negeri ini menggunakan KKM tersebut di atas untuk penyakit semua pasien,di mana agar negeri ini kesehatannya bagus,maka ditentukan bahwa semua rumah sakit harus bebas dari panyakit kanker, diabetes mellitus, AIDS, kusta dan lain lainnya. Jika seorang dokter mendiagnosis ada pasien yang mengidap penyakit kanker usus sebagai misal,maka hal itu tidak diperbolehkan karena dalam KKM -ketuntasan kesehatan masyarakat- di rumah sakit itu tadi sudah ada kriterianya.Jadi dokter harus menulis penyakit pasien tadi cukup dengan penyakit magh atau asam lambung. Bila hal ini terjadi,kita semua pasti tahu,ada hal fatal diberikutnya,yaitu pemberian obat dan perlakuan serta perawatan pada pasien tersebut dipastikan juga akan salah. Yaah,tinggal tunggu waktu saja,pasti pasien tersebut akan meninggal. ah,.untungnya aku hanya membahas KKM di pendidikan,murid tidak menjadi pandaipun rasanya kok masih jauh dari nyawa. Untungnya lagi,belum pernah ada kasus  malpraktek guru dalam penyampaian materi pelajaran yang berujung ke kasus hukum,kecuali jika anda dokter sih..(Based on true story). ⚘✌

 

Nagasaki,.03012020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

search